Sabtu, 13 Juli 2013

Kenapa harus DAWET IRENG KHAS PURWOREJO ?????



               Dawet Ireng adalah sejenis dawet / cendol. Minuman ini asli dari daerah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah. Kata ireng dari Bahasa Jawa yang artinya hitam. Butiran dari dawet berwarna hitam, warna hitam dawet diperoleh dari abu bakar jerami, abu bakar jerami kemudian dicampur dengan air sehingga menghasilkan air berwarna hitam, air inilah yang digunakan sebagai pewarna dawet.
Sepertinya memang tak ada bedanya dengan es dawet yang biasanya berwarna hijau. Penyajiannya juga sama, dalam mangkuk dan dilengkapi santan dan gula merah. Pembeda utamanya, dawet ini berwarna hitam pekat.

          Apa yang menjadikannya istimewa? Keunggulannya adalah dawet ini berkasiat sebagai pereda panas dalam serta memperlancar pencernaan. Bahan dasar dawet ini adalah tepung aren dan tepung erot  dengan garam yang berfungsi sebagai perasa. Sedangkan warna hitam dawet ini ternyata terbuat dari merang, atau daun padi yang dibakar sampai gosong lalu diambil airnya. Satu hal lagi yang membedakan, jika dawet hijau dibuat dari tepung beras, dawet hitam ini dibuat dari sagu.

                     Dalam penyajiannya, campurannya cukup sederhana, yakni menggunakan santan, gula jawa dan dawet sebagai bahan utamanya. Meski demikian, kesederhanaan yang ada tidak menyebabkan rasa dawet hitam ini kehilangan rasa lezat. Rasanya pas, tidak terlalu manis.Begitu pula dengan santan yang tidak terlalu kental terasa segar di mulut. Dawet hitam ini akan lebih nikmat jika diminum dalam keadaan dingin. BAgi semua rekan semua yang belum pernah merasakan nikmatnya DAWET IRENG KHAS PURWOREJO silahkan mampir digerai kami di  Jalan HOS Cokro Aminoto gang 6, desa Mlatinoroto RT 03 RW 05 Kudu, atau silahkan mampir di bolg kami blog DAWET IRENG KHAS PURWOREJO

Jumat, 12 Juli 2013

RESEP DAWET IRENG KHAS PURWOREJO



Minuman tradisional khas Purworejo Jawa Tengah ini berwarna ireng atau hitam sehingga biasa disebut juga Es Cendol Hitam. Warna hitam yang dihasilkan berasal dari merang atau batang padi yang dibakar. Sekarang tak perlu ke purworejo atau pesan jauh ke sana untuk menikmati dawet ini, kita bisa coba mempraktekkannya dengan resep berikut :


BAHAN DAWET :
  • 50 gram tepung sagu
  • 60 gram tepung beras
  • 600 ml air
  • 1 sendok teh garam
  • 1 1/2 sendok makan (3 gram) abu merang dan 50 ml air, dilarutkan, disaring
  • 1/8 sendok teh pewarna hitam
BAHAN SIRUP :
  • 250 gram gula merah, disisir
  • 2 lembar daun pandan
  • 250 ml air
BAHAN KUAH SANTAN :
  • 500 ml santan dari 1/2 butir kelapa
  • 2 lembar daun pandan
  • 1/4 sendok teh garam
BAHAN PELENGKAP :
  • tapai ketan
  • 3 buah nangka, dipotong-potong
  • es batu atau es serut
CARA MEMBUAT ES DAWET IRENG KHAS PURWOREJO :
  1. Dawet Ireng : larutkan tepung beras, tepung sagu, air, air abu merang, garam, dan pewarna hitam. Masak sambil diaduk sampai meletup-letup dan kental.
  2. Tuang dalam cetakan cendol. Tekan diatas baskom yang berisi air es. Saring cendolnya. Sisihkan.
  3. Sirup : didihkan bahan sirup di atas api kecil sampai kental. Aduk rata.
  4. Kuah santan : rebus bahan kuah santan sambil diaduk sampai mendidih dan matang.
  5. Siapkan gelas, sajikan cendol beserta tapai ketan dan nangka. Tambahkan sirup, kuah santan dan es serut. Bisa untuk 7 porsi.

Sejarah Dawet Ireng Khas Purworejo



Sebenarnya Bagi warga yang berdomisili di Purworejo tentunya tak asing lagi dengan Dawet Ireng, minuman khas ‘trade mark’ Butuh, Purworejo, karena minuman ini tersebar luas di pinggir-pinggir jalan raya Purworejo. Rasanya yang sangat manis dan mengenyangkan menjadi ciri khas dari dawet ireng ini. Dawet Ireng adalah minuman berjenis dawet tetapi dengan cendol yang berwarna hitam legam. Proses pembuatannya sangat alami yaitu diolah dengan tangan dan tak menggunakan bahan pewarna. Pewarna hitam untuk cendol dibuat dari daun padi kering (oman) yang dibakar hingga menjadi abu, kemudian abu dicampur dengan air dan menghasilkan warna hitam. Sedangkan cendolnya dibuat dari sagu bukan dari tepung beras seperti cendol hijau biasa. Pemanis menggunakan gula aren.
Dari Cerita yang sedikit aku dengar Konon, Dawet Ireng awal mulanya dpasarkan oleh Mbah Ahmad sekitar tahun 1950 di daerah sebelah timur jembatan Butuh, Purworejo yang sampai sekarang masih terdapat kiosnya. Dawet Ireng saat ini sudah terkenal sampai ke luar Purworejo kabarnya dawet ireng sudah sampai Jawa Barat dan Jawa Timur, bahkan Dawet Ireng sering dipesan dalam jumlah besar misalnya untuk acara hajatan.
Ada keunikan dalam penyajian Dawet Ireng ini, yaitu pemerasan santan dari parutan kelapa langsung yang dapat dilihat oleh pembeli dan jumlah cendol ireng yang jauh lebih banyak dibanding kuahnya (santan dan air gula aren), kemudian ditambah es, dijamin segar dan kenyang!.
Dawet Ireng ternyata mampu menembus pasar di luar Purworejo dan seharusnya pemerintah daerah Purworejo mengambil peluang untuk mempopulerkan Dawet Ireng dan mempatenkan sebagai minuman khas Purworejo.
Sembari menikmati dawet ini aku melamun sejenak, jika saja pemerintah daerah bisa lebih giat lagi mempromosikan kuliner khas ini tentu saja bukan tidak mungkin Purworejo bisa terkenal akan kulinernya yang memiliki potensi,tidak hanya di Indonesia sendiri mungkin saja bisa terkenal di mata internasional, sungguh suatu mimpi yang sebenarnya ingin aku wujudkan untuk daerahku tercinta. , inilah sedikit ceritaku tentang si hitam manis dari Purworejo.